Breaking News
Home / Tak Berkategori / Ethek Lawu

Ethek Lawu

Ethek Lawu adalah nama paguyuban pedagang sayur keliling di Kabupaten Magetan. Paguyuban ini dibentuk supaya masyarakat bisa saling bersosialisasi, dan saling memiliki ikatan. Paguyuban disebut juga sebagai kelompok sosial, tipe paguyuban adalah keluarga, kekerabatan, rukun tetangga, dan teman sepermainan.

Ethek sendiri diambil dari geguyonan anggota Ethek Lawu, yang menurut ketua Ethek Lawu mereka memberi nama itu disesuaikan dengan kondisi kendaraan mereka yang kurang bagus dan bersuara bising. Motor yang digunakan adalah motor yang kondisinya kurang bagus dan suara kenalpotnya bising sehingga disebut dengan Ethek. Sedangkan nama Lawu diambil dari nama pegunungan yang menaungi Kabupaten Magetan yaitu Gunung Lawu.

Ethek Lawu ini dibentuk atas usulan dari pak Yusuf, beliau adalah ketua Ethek Lawu se-Kabupaten Magetan, beliau membentuk paguyuban ini dengan alasan supaya semua pedagang sayur keliling memiiliki ikatan sehingga mereka dapat saling tolong-menolong jika ada kecelakaan di jalan raya. Kebutuhan manusia yang semakin hari semakin bertambah, menjadi alat penyemangat para pelaku usaha Ethek Lawu ini. Dilihat dari segi kebutuhan masyarakat, keberadaan Ethek lawu ini sangat berguna dan sangat di nantikan oleh masyarakat. Konsumen tidak perlu lagi berjalan jauh untuk mancari sayuran untuk dikonsumsi.

Ethek Lawu diatur dari masing-masing wilayah, ini dilakukan supaya lebih mudah dalam mengkoordinir para anggota lain. Dalam kurun waktu satu minggu para pedagang selalu menyisihkan waktu untuk mengadakan arisan dan berdiskusi mencari solusi bersama atas permasalahan-permasalahan yang mereka temui saat berdagang serta untuk menambah ikatan persaudaraan antar anggota.

Ethek Lawu di desa Bedagung sudah ada sejak tahun 2005 diawali oleh pak Bakri, pak Saeno, pak Beno dan pak Lasno. Pasang surut dalam berdagang juga mereka alami, hingga beberapa bulan kemudian kesuksesan diraih oleh berempat. Melihat kesuksesan itu sebagian masyarakat Desa Bedagung mulai melirik dan ingin belajar menjadi pedagang sayur keliling, mencari lokasi berdagang, membuat rombong dan menentukan harga sayur. Dalam dua tahun pedagang sayur keliling di desa Bedagung berkisar 50 orang, dan perkembangan pedagang sayur sek-Kabupaten Magetan juga semakin meningkat sehingga pada tahun 2007 di bentuk dan diresmikan Ethek Lawu menjadi paguyuban di Kabupaten Magetan.

Menurut pak Yusuf selaku ketua Ethek Lawu Kabupaten Magetan, tidak ada dana bantuan dari pemerintah untuk paguyuban Ethek Lawu tersebut. Berbeda dengan pernyataan pemerintah Desa Bedagung yang menyatakan bahwa salah satu kelompok di Desa Bedagung mendapatkan bantuan dan dari pemerintah sebesar Rp 25.000.000; pada tahun 2014. Ini berarti paguyuban Ethek Lawu di masing-masing wilayah Kabupaten Magetan berdiri sendiri di bawah naungan paguyuban Ethek Lawu se-Kabupaten Magetan. Ini berarti ikatan yang mereka jalin hanya saat berada di pasar sayur Magetan saja dan ketika mereka kembali ke wilayah masing-masing maka ikatan di wilayah merekalah yang diperkuat.

Berdagang adalah cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Punjual dan pembeli bisa saling menguntungkan. Penjual memperoleh keuntungan materil dari dagangannya sedangkan pembeli mendapatkan keuntungan yaitu memperoleh kepuasan. Kegiatan berdagang sudah ada sejak jaman dahulu bahkan mungkin sejak jaman Rosulullah berdagang menjadi salah satu kegiatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam berdagang selalu identik dengan peran perempuan sebagai penjual maupun pemebeli. Jika melihat ke pasar-pasar tradisional pasti yang kita temukan adalah para perempuan, mereka berargumen menawarkan produk dagangannya dan pembeli juga seorang perempuan yang menawar barang keperluannya.

Seiring berjalannya waktu pedagang yang di dominasi oleh perempuan ini mulai tergeser dan digantikan oleh pedagang laki-laki, hal ini diakibatkan dari kebutuhan konsumen yang menginginkan semua serba mudah dan cepat. Seperti yang terjadi saat ini pedagang sayur tergantikan oleh pedagang laki-laki sebab pedagang laki-laki mampu menjual barang dagangannya ke berbagai wilayah maupun pelosok-pelosok daerah. Sedangkan pedagang perempuan hanya berdagang di satu tempat saja yaitu pasar.

Ethek Lawu hadir sebagai solusi yang baik guna memenuhi kebutuhan konsumen yang menginginkan semuanya serba cepat dan instan. Konsumen tidak perlu lagi pergi ke pasar untuk membeli sayuran atau bahan lauk lainnya untuk keperluan memasak karena para pedaganglah yang akan mendatangi konsumen kesetiap pekarangan rumah konsumen. Ini memudahkan konsumen dalam menghemat biaya transportasi dan menghemat waktu.

Ethek Lawu diresmikan pada tahun 2007 dengan jumlah anggota sekitar 1000 orang yang terdaftar. Mereka berasal dari Kabupaten Magetan, melihat dan menimbang banyak sekali kecelakaan lalu lintas maka pembentukan paguyuban ini juga sebagai wahana informasi jika ada anggota Ethek Lawu yang kecelakaan. Seiring berjalannya waktu pada tahun 2015 ini jumlah anggota Ethek Lawu bertambah menjadi 1600 orang, menurut penjelasan pak Yusuf setiap tahunnya pasti ada yang bergabung menjadi anggota Ethek Lawu 30% dari lulusan SMA.

Keberadaan pedagang sayur keliling ini telah membawa dampak buruk bagi pasar-pasar tradisional, sebab konsumen tidak lagi mau belanja ke pasar tradisional. Pasar merupakan proses terjadinya transaksi jual-beli antara penjual dan pembeli. Melaui interaksi penjual dan pembeli akan terbentuk harga di pasar, namun kini pasar berubah menjadi sepi semua beralih ke pedagang sayur keliling yang lebih praktis dan kondisi sayurannya juga masih segar.

Keberadaan Ethek Lawu di Desa Bedagung membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar terbukti dengan munculnya industri tempe dan industri jajanan pasar, dengan demikian Ethek Lawu membawa keuntungan bagi para pelaku usaha lain. Rombong (gerobak) yang dipakai pedagang sayur keliling ini, di disain secara khusus agar dapat menampung bahan makanan untuk para konsumen.

Ketelatenan dan keuletan menjadi kunci utama kesuksesan para pedagang sayur keliling, untuk mendapatkan hasil mereka harus sabar dan menjalani semuanya dengan semangat yang tinggi. Jika hal itu dilupakan maka bukan keuntungan yang didapat tetapi kerugian bahkan berhenti berdagang, itulah ulasan yang disampaikan oleh ketua Ethek Lawu Kabupaten Magetan yaitu Pak Yusuf.

Para pedagang sayur keliling menjelaskan bahwa setiap kegiatan berdagang pasti ada keuntungan dan kerugiannya, sehingga mereka harus pandai menyiasati kerugian tersebut. Berdasarkan penjelasan beberapa informan, kerugian diakibatkan oleh beberapa hal diantaranya adalah kegiatan pernikahan yang dilaksankan salah satu warga tempat dimana mereka berjualan, adanya kematian dari salah satu warga, menepati hari-hari besar keagamaan, dan adanya pedagang baru sehingga memunculkan persaingan.

Kegiatan pedagang sayur keliling di mulai pada pukul 01:30 WIB untuk kloter pertama, untuk kloter kedua pukul 2.00 WIB dan kloter ke 3.00 WIB, setelah sampai di pasar sayur Magetan mereka mulai mencari barang pesanan masyarakat dan menata barang belanjaan. Ada yang unik dalam hal ini, para pedagang sayur keliling hanya menata barang belanjaannya di gerobak masing-masing sebab para pemilik sayur yang berbondong-bondong menaruh sayuran ataupun barang lainnya di gerobak Ethek Lawu. Setelah selesai menaruh sayurannya mereka berkeliling kembali untuk meminta uang sayurannya. Setelah selesai menata dagangannya mereka mulai berangkat ke wilayah-wilayah yang sudah menjadi langganannya untuk berjualan. Lama berjualan sekitar 6-8 jam, sampai barang yang mereka bawa habis.

Setiap tahunnya pasti ada anggota baru yang bergabung menjadi bagian dari keluarga Ethek Lawu, untuk para pemula biasanya kurang berani untuk mengeluarkan modal terlalu banyak. Modal awal Rp300.000;-Rp400.000; untuk pemula dengan keuntungan bersih Rp40.000; ini berarti dalam satu bulan penghasilannya mencapai Rp120.000;. Jika ini terus berlanjut dan menambah modal sampai dengan Rp1.000.000; dengan keuntungan Rp150.000;-Rp200.000 maka keuntungan mencapai Rp4.500.000;-Rp6.000.000;. Keuntungan tersebut akan dibagi menjadi kebutuhan sehari-hari dan digunakan untuk membayar cicilan motor maupun cicilan Bank.

 

Ethek Lawu membawa dampak positif bagi masyarakat Desa Bedagung. Kehadiran Ethek Lawu dapat mengangkat perekonomian diri sendiri maupun orang lain, hal ini dapat dilihat dari munculnya industri rumahan seperti industri tempe dan jajanan pasar. Selain itu masyarakat desa Bedagung dapat menjual hasil panen sayurannya pada pedagang Ethek Lawu. Para kosumen juga sangat senang dengan keberadaan Ethek Lawu ini, selain kualitas sayurnya yang masih segar juga sangat praktis dan mereka tidak perlu lagi pergi ke pasar hanya sekedar untuk membeli sayur. Disisi lain, kehadiran Ethek Lawu ini membawa dampak buruk bagi pedagang sayur di pasar tradisional. Mereka merasa mata pencahariannya diambil oleh para pedagang Ethek Lawu, sebab konsumen lebih memilih berbelanja ke pedagang Ethek di bandingkan belanja ke pasar.

 

We have a very talented internal team of reveal this designers, who took the design strategy and direction from our fabulous brand agency, siegel + gale, and refined our final logo to solve for these problems
aufsatz deutschschreiben.de